Pariaman Apenscholen

Onze Aarde, sebuah majalah di Eropa memuat tulisan perjalanan pria Belanda bernama J Jongejans. Tulisan itu bercerita tentang monyet-monyet di pesisir pantai Sumatra begitu lihai memetik buah kelapa. Tulisan yang  diberi judul Apenscholen itu terbit pada tahun yang sama dengan pecahnya perang dunia kedua, saat Jerman memulai invasi ke Eropa.

Sembilan tahun sebelum catatan itu dipublikasikan Onze Arde, Jongejans menginjakkan kakinya di Pariaman. Dalam tulisannya tergambar jelas rasa kagumnya pada monyet-monyet yang mahir menjatuhkan buah kelapa yang tua. Namun dia lebih terkagum lagi kepada orang Pariaman yang mampu mengajar beruk-beruk untuk menggantikan tugas mereka.

Nasril beserta sang istri di halaman rumahnya di kampung Toboh Pariaman

Apenscholen adalah bahasa Belanda untuk sekolah monyet. Jongejans mencatat bagaiman orang-orang di Pariaman kala itu melatih monyet-monyet liar atau dalam bahasa lokal disebut beruk. Dengan serangkaian metode tertentu, beruk-beruk liar itu segera mengenal kelapa muda atau tua, bisa menghindari serangga beracun yang hidup di batang kelapa, dan bahkanterjun dari satu batang ke batang lainnya.

Daratan Pariaman yang terbentang di sepanjang pesisir Pulau Sumatra, sejak masa prakolonial telah dikenal sebagai daerah penghasil kopra. Iklim tropis yang berjalan sepanjang tahun membuat daratan ini menjadi surga bagi tumbuhan tropis.

Kelapa-kelapa Pariaman telah ditukarkan dengan hasil ladang yang di panen dari lereng-lereng gunung di dataran tinggi Minangkabau. Kelapa ini juga menjadi salah satu bumbu nomor satu untuk membuat rendang Minangkabau yang tersohor. Layaknya garam, komoditi ini bahan wajib yang dibawa pulang jika pedagang dataran tinggi menempuh daerah pesisiran.

Potret Nasril dan potret beruk dipajang di dalam rumah

Pada Oktober yang panas garang saya menemui Nasril, seorang pelatih beruk di Nagari Toboh Pariaman. Kampung yang terletak cukup jauh dari pantai. Meski telah lama berlalu, luka akibat gempa yang menghentak Pariaman pada 2009 masih meninggalkan bekas.. Rumah-rumah kupak di sepanjang jalan. Kampung-kampung sepi ditinggal penghuninya.

Nasril menyambut saya dengan jabat tangan yang hangat. Dia mengajak masuk ke rumah, tapi saya lebih memilih duduk di beranda. Jauh dari pantai ternyata tidak jadi jaminan selamat dari cuaca pesisir yang kering. Panas yang keterlaluan tak terbentung nyiur yang melambai-lambai.

“Ayah saya juga pelatih beruk. Sejak masih sangat muda saya sudah ikut ayah,” Nasril membuka cerita.

Di halaman rumah Nasril Saya melihat tiga ekor monyet (Macaca Nemestrina) atau beruk dipautkan. Pada pokok pohon kelapa Nasril membuat cabang dari kayu dan menambatkan sebuah kelapa tua. Satu monyet di setiap cabang. Mereka akan menghabiskan waktu cukup lama dengan kelapa tua.

Potret Nasril bersama anak sulungnya Masrizal. Masrizal juga bisa melatih beruk, namun dia berencana merantau (kiri). Seekor beruk yang sedang dilatih terikat di pokok pohon (kanan)

Pria yang telah sepuh ini menjadi satu dari sedikit orang di Pariaman mampu dan masih melatih monyet untuk memetik kelapa hingga hari ini. Beruk-beruk itu menurut Nasril sama saja dengan orang. Ada yang cepat bisa diajar. Tapi tidak sedikit juga yang bodoh.

Dari cerita Nasril saya kemudian tahu, jika beruk-beruk ini dilatih sejak usia sangat muda. Tiga bulan, lebih tua dari itu maka makin sulit melatih beruk-beruk liar ini. Mereka didatangkan dari belantara Rimbo Panti di bagian timur Sumatra Barat. Beruk-beruk itu bisa sakit dan mati seketika jika tidak diberi perhatian. Jika musim kawin tiba, mereka harus dicarikan pasangan. Jika birahi tidak tuntas mereka berubah jadi beringas. “Mirip dengan manusia,” pikir saya.

Rantai pengikat beruk dibenamkan di pohon kelapa. Rantai-rantai ini juga bisa menjadi obat jika beruk terserang demam.

Nasril bertutur bagaimana beruk betina lebih baik untuk dilatih sebagai pemetik kelapa. Memelihara beruk betina juga lebih aman. Mereka lebih jinak, apalagi kepada keluarga majikannya. Dalam kondisi prima, seekor beruk betina bisa memetik seribu buah kelapa dalam satu hari. Hal yang tidak menjadi karakter beruk-beruk jantan.

Beruk betina adalah angsa dengan telur emas, Akan lebih menguntungkan memeliharanya dibanding menjualnya dengan harga tinggi sekalipun. Beruk betina yang sudah mahir memetik kelapa dilepas dengan harga paling murah Rp5 juta. Itupun terjadi jika terpaksa.

Beruk sedang menjalani pelatihan. Mengenal kelapa adalah pelajaran pertama yang harus dikuasi beruk.

Dalam sebuah catatan saudagar Belanda, disebutkan beruk-beruk pemanjat dan pemetik buah kelapa ini telah lazim digunakan bahkan dari abad ke-18. Hingga hari ini petani kelapa, masih menjadikan beruk sebagai tenaga pemetik nomor satu. Hal ini membuat permintaan atas beruk-beruk pemetik kelapa terus ada, meski mungkin tidak setinggi dulu lagi. Seperti kata Nasril, beruk-beruk ini menjadi bagian lain dalam hidup orang Pariaman.

“Di Pariaman, hanya beruk tak pakai cincin,” Nasril berseloroh melihat jari-jari saya yang polos tanpa cincin batu akik.

Beruk di pekarangan rumah Nasril.

Matahari telah lengser ke arah barat. Waktu berlalu begitu Nasril mulai bercerita. Kata Nasril Maota atau bercerita adalah keahlian bawaan lahir orang Pariaman. Bangkit dari duduknya, lelaki itu, kemudian memeriksa beruk satu per satu. Memberi mereka minum lalu memindahkannya. Beruk-beruk itu adalah beruk terakhir yang dilatihnya. Kesehatan yang menurun membuat Nasril harus lebih banyak istirahat.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *