Apa Kabar Fotografi Kritis?

Fotografer senior eks-Kompas, Arbain Rambey, dapat merinci dengan detil bagaimana seperangkat lensa bekerja dengan segala dampak optikalnya. Ketika itu Arbain sedang berupaya dengan penuh kecurigaan membongkar sebuah foto yang menurutnya tak logis. Foto yang dia tuduh sebagai hasil manipulasi. Sebuah foto yang ditempel dengan foto lainnya. Ketika itu pula, jurnalis foto Koran Singgalang di Padang sedang memotret kesana-kemari.

Givo Alputra, jurnalis foto itu, kemudian meraih penghargaan “Photo of the Year” APFI (Anugerah Pewarta Foto Indonesia) 2021. Karyanya berupa foto seorang bayi baru lahir yang mengenakan pelindung wajah di lengan seorang tenaga medis. Apakah dewan juri APFI juga menilai dengan detil kemampuan seperangkat alat yang digunakan Givo untuk menghasilkan foto itu? Saya tidak tahu.

Kabar baik kemudian datang dari World Press Photo, organisasi independen yang menggelar kontes penghargaan bergengsi untuk jurnalis foto sejagad raya. Adalah Joshua Irwandi, fotografer Indonesia yang karyanya masuk dalam nominasi kategori General News. Sesial-sialnya nasib, karya Joshua itu akan menjadi juara tiga di ajang itu.

Dulu, ketika karya Joshua itu dipublis oleh National Geographic pertama kali, sejumlah pihak di Indonesia juga menuding karya itu hasil rekayasa, manipulasi semata dan penuh kebohongan. Lantas insan-insan foto jurnalistik tanah air ramai-ramai turun tangan membela Joshua. Foto fenomenal, karya yang menggugah, sebuah foto yang menandai zaman, begitu komentar-komentar orang melihat karya Joshua itu.

Pembelaan terhadap Joshua itu barangkali muncul lantaran tudingan terhadap karya fotonya itu dinilai telah mencederai nilai-nilai jurnalistik. Di tangan APFI yang mengklaim diri sebagai ajang penghargaan tertinggi untuk jurnalis foto, karya Joshua tersebut kemudian dimasukkan dalam kategori Jurnalis Warga.

Pada penghujung tahun lalu, Kristen Chick, seorang jurnalis lepas menerbitkan laporan investigasi tentang pelecehan seksual yang dilakukan fotografer Magnum, David Alan Harvey. Kristen menjelaskan bagaimana modus cabul David, dengan kerjanya sebagai mentor fotografi memikat fotografer muda dan melecehkan mereka. Dalam tulisan itu, setidaknya disebut sebelas perempuan mengaku telah dilecehkan oleh fotografer gaek itu. Nama Nyimas Laula, fotografer Indonesia yang berbasis di Bali muncul sebagai salah satu korban. Kabar ini tentu saja sampai ke Indonesia, namun masyarakat fotografi Indonesia bergeming.

Apa kabar fotografi kritis?

Jika karya Givo dapat dibaca sebagai kabar baik dan harapan untuk hari depan, maka karya Joshua adalah segala oposisinya. Meski begitu, menempatkan karya Joshua ke dalam kategori jurnalis warga bagi saya merupakan sebuah lelucon yang kelewat sarkas.
Ini tentu sah saja bagi APFI. Menang World Press Photo tak berarti sebuah legitimasi menjadi jurnalis foto di Indonesia. Barangkali seperti itu. Bisa saja bukan?
Kondisi ini bagi saya menjadi sebuah paradoks yang mungkin hanya terjadi di Indonesia. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa sebab. Kira-kira terdapat suatu kondisi kompleks dalam fotografi Indonesia yang memungkinkan hal-hal semacam ini dapat terjadi.

Di tengah begitu banyaknya peristiwa fotografi yang terjadi, saya heran mengapa para pegiat fotografi masih saja berteriak jika fotografi di tanah air ini kering wacana? Intelektual-intelektual fotografi, kritikus, para peneliti lintas disiplin yang bergelut dengan fotografi masih saja mengeluh jika perbincangan fotografi masih berkutat soal teknis memotret. Apa yang terjadi beberapa waktu belakang ini, agaknya sudah bergerak cukup jauh dari sekadar teknis mengoperasikan kamera.

Fotografi bisa menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara (voice of the voiceless). Fotografi sebagai kritik sosial, fotografi untuk perubahan dan terlebih fotografi untuk kemanusian. Kalimat itu dan sejumlah cita-cita luhur fotografi lainnya sering kita dengar dalam lokakarya, dalam kelas-kelas foto dan diskusi-diskusi. Namun kita tak mendengar apa-apa ketika kasus cabul fotografer Magnum mencuat ke permukaan.

Kiranya cita-cita menggugah itu hanya kembang-kembang retorika, atau bunga galas semata? Sebuah gaung yang cuma terdengar keras ke luar, tapi tidak ke dalam. Tidak bagi pelaku fotografi itu sendiri.

Fotografer Indonesia tak henti memproduksi karya. Karya-karya itu muncul dalam berbagai wujud dengan nasib yang beragam pula. Buku foto misalnya, tak berhenti terbit walau pandemi menguncang seluruh bidang kehidupan. Beberapa mendapat ulasan, namun mungkin lebih banyak yang tidak. Meski mendapat ulasan, hal yang paling sering dibicarakan dari sebuah buku foto malahan jenis kertas yang dipakai, ukuran dan teknis menjilidnya. Selain tentu saja seuntai ucapan selamat yang diiringi puji-pujian. Kemudian kritikus, para intelektual foto masih saja merengek tentang bagaimana malasnya fotografer mengupdate pengetahuan mereka, tentang betapa sesungguhnya kita tidak terliterasi secara visual. Tentang betapa sesungguhnya fotografi Indonesia cuma berjalan di tempat.

Begitukah?

Kurandji 2021