Fotografi dan Hantu-Hantu Akademik

Awal pekan lalu, saya mengunjungi sebuah pameran fotografi di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Dalam pameran tunggal tersebut, dipajang foto-foto silat Minangkabau bawah air karya Taufik Imran. Taufik merupakan mahasiswa pascasarjana di kampus seni itu. Pameran ini merupakan ujian akhir Taufik untuk mendapat gelar magister di program studi fotografi.
Bagaimana karya foto bisa memikul beban-beban akademik?
Inilah salah satu pertanyaan yang mendorong saya untuk mengunjungi pameran tersebut. Saya mendapati puluhan foto Silat Kumango dicetak dan dibingkai dalam berbagai ukuran. Sejumlah foto disusun kolase dalam satu bingkai. Beberapa yang lain ditampilkan secara sekuens. Di bawah foto ada keterangan jenis kertas dan ukuran cetak foto. Selain itu hanya ada teks pendek tentang nama gerakan atau barangkali nama jurus silat yang ditampilkan pendekar di bawah air itu. Alih-alih menemukan jawaban, pertanyaan awal yang saya bawa jadi berlipat ganda.
Dari obrolannya, saya mengetahui Taufik gandrung pada fotografi bawah air dan sudah cukup lama menekuninya. Dari situ juga saya tahu, jika motifnya memotret para pendekar Silat Kumango di bawah air untuk menciptakan visual yang antimainstream. Menurutnya Silat Kumango sudah banyak ditampilkan di berbagai tempat, di tanah, dan di dalam lumpur. Tapi belum ada yang pernah menampilkannya di bawah permukaan air. Sebagaimana dia tulis dalam poster digital pamerannya, itulah salah satu alasan Taufik memotret silat di bawah air. Selain untuk juga untuk mengenalkan dan melestarikan silat itu. Dan untuk membangun identitas diri sebagai seniman, dalam karya ini Taufik menggunakan estetika metode EDFAT, dengan garapan fotografi dokumenter.
Saya lihat lagi sederet foto karya Taufik. Para pendekar berpose dengan pakaian warna-warni di kelilingi ikan-ikan. Pendekar perempuan bergincu berupaya memasang kuda-kuda di bawah air. Pendekar-pendekar cilik kesulitan menahan gelembung udara keluar dari mulut mereka. Apa kiranya hubung-kait antara Silat Kumango, ilmu bela diri yang berkembang di dataran tinggi Minangkabau, dengan dunia bawah air? Saya teringat adegan-adegan film Hollywood, barangkali juga film Bollywood. Kepala saya mulai terasa berdenyut.
Jika melihatnya dari koridor fotografi saja, rasanya tidak ada masalah pada foto karya Taufik. Namun tujuan dan motif penciptaan foto-foto inilah yang kemudian menyeret sejumlah tanda tanya. Merujuk pada ketentuan kampus, karya akademik semestinya melalui penelitian by-research, berbasis keilmuan, dan tentu saja ilmiah. Barangkali tujuan dan kepentingan akademik inilah yang membuat foto mau tidak mau harus menanggung beban akademis.
Dasar pikiran yang logis atau dalam bahasa dunia pendidikan “berbasis keilmuan” begitu sukar ditelusuri pada karya Taufik. Karyanya seperti diciptakan dengan konsep mana suka. Seolah tak diperlukan landasan yang masuk akal, by research apalagi ilmiah dalam proses penciptaannya. Taufik hanya merelokasi Silat Kumango ke bawah air. Sekali lagi, dengan tujuan menciptakan visual yang antimainstream.
Dalam ranah akademik, pada perkara macam beginilah, peran dan tanggung jawab para akademisi-dosen fotografi agaknya menjadi fundamental. Di dalam institusi pendidikan resmi, seperti kampus seni, di tangan para akademisi dan dosenlah kerja memilah segala yang sains dari yang non-sains berjalan. Merekalah yang sekiranya menimbang dan memutus seberapa ilmiah sebuah gagasan untuk terus dikembangkan menjadi karya.
Saya kira, akademisi-dosen fotografi hakikatnya mengambil peran sebagai cendekiawan di tengah masyarakat, baik itu pelaku maupun penikmat fotografi. Mereka adalah tempat bertanya, suluh penerang di kegelapan, di tengah belantara ketidaktahuan kita akan perihal-perihal fotografi. Para akademisi-dosen ini yang memanggul tanggung jawab intelektual. Jika tidak kepada khalayak, setidaknya kepada pengetahuan itu sendiri. Namun kampus seolah hanya menjadi ruang-ruang belajar yang kaku. Tidak banyak kita mendengar akademisi-dosen fotografi merespon bagaimana fotografi bergerak dengan segala dinamikanya hari ini. Jika pun banyak, akademisi-dosen yang bicara atau menulis tentang fotografi, itu pun sebagai syarat yang mereka penuhi untuk meraih gelar akademik selanjutnya. Sebuah disertasi misalnya atau laporan pengabdian masyarakat jika ingin menyebut contoh yang lain.
Fotografer juga adalah seorang craftsman yang berkutat dan bergulat dalam proses penciptaan karyanya. Pada proses itulah metodologi penciptaan karya diuji. Proses kreatif ini sekiranya berlangsung pada semua fotografer, tak terlepas apakah mereka fotografer seni atau fotografer genre lainnya. Dan karyalah yang kemudian menjadi pintu untuk bisa menelusuri jalan menuju pikiran-pikiran mereka. Lalu akademisi, mereka yang berkutat dengan ilmu pengetahuan, pekerjaannya tentu dapat dilihat dari sumbangsih pemikirannya. Dalam konteks foto-foto silat Kumango di bawah air ini, pikiran serta pertimbangan-pertimbangan ilmiah yang by research ini begitu sukar terdeteksi.
Silat, dalam konteksnya sebagai produk kebudayaan telah menjadi objek fotografi yang didekati dengan beragam motif. Hal ini tidak hanya terjadi pada silat, tapi juga terjadi pada produk kebudayaan lainnya di nusantara. Disengaja atau tidak, disadari atau pun tidak, fotografi telah mendistorsi kebudayaan dari berbagai penjuru. Silat dari kacamata fotografi cenderung selalu dilihat sebagai sebuah tontonan nan eksotis, sebuah atraksi tubuh untuk memukau pelancong. Dan fotografi mengekalkannya sebagai daya tarik wisata.
Foto silat lumpur contohnya. Pendekar dengan gerak akrobatik, pisau terhunus dalam adegan saling bunuh, dan percikan lumpur yang membeku di udara tentu lebih memanjakan mata. Melihat foto-foto silat lumpur, seorang guru silat setengah jengkel pernah berkata “Jika ada silat lumpur, tentu ada pendekar lumpur. Jika mau bertarung harus mencari lumpur tergenang dulu?” Tentu saja pertanyaan pendekar tua itu tidak ada hubungannya dengan jumlah turis. Tapi apakah pertanyaan semacam itu pernah terlintas di benak fotografer yang memotretnya? Siapa yang tahu.
Pada kerja-kerja fotografi macam begini, pertanyaan kenapa dan mengapa menjadi tidak penting untuk diajukan. Reaksi selain keterpukauan dan perasaan takjub menyaksikan para pendekar bersilat di lumpur juga dianggap tidak relevan. Mau memotret saja kenapa harus serumit itu?
Dan dalam karya Taufik, distorsi itu ditarik kian jauh. Silat di bawah permukaan air. Bahkan, dalam diskursus akademik, fotografi terkesan tak berniat, atau tidak mau bersusah-susah untuk melihat aspek-aspek kebudayaan dengan lebih serius, apalagi menelusurinya dengan jalan ilmiah. Pada masa ini, di tengah laju dan pergerakan fotografi yang begitu dinamis, hal ini menjadi sebuah bentuk kemunduran berpikir. Sebuah degradasi yang justru lahir dalam institusi di mana fotografi selayaknya diproduksi dan dibicarakan dengan gairah ilmu pengetahuan.
Kita tentu saja boleh berangan-angan kampus atau institusi pendidikan fotografi bisa menjadi ruang dialog tempat gagasan baru dan wacana fotografi digulirkan secara berkelanjutan. Menjadi salah satu pilar yang menopang iklim fotografi. Tapi yang terjadi, justru kantong-kantong edukasi fotografi lebih subur di luar kampus. Kelas-kelas fotografi dari yang gratis sampai yang berbayar jutaan rupiah tidak pernah sepi peserta. Orang-orang mendapuk diri mereka sendiri sebagai pengajar tanpa perlu sertifikasi dosen. Berbagai inisiatif dan gerakan alternatif yang fokus pada pengetahuan dan perkembangan fotografi terus tumbuh, menjalar ke mana-mana, bahkan bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Saat ini segala akses informasi dan referensi fotografi telah begitu terbuka. Dan fotografi terus berkembang demikian progresif. Lalu apakah lembaga pendidikan fotografi seperti ISI tidak malu jika karya lulusan magisternya tidak bertolak dari pikiran yang akademis? Jika jawabannya tidak, maka bolehlah kiranya saya menawarkan solusi sederhana untuk kawan-kawan mahasiswa pascasarjana yang tengah kesulitan dengan ide tugas akhir penciptaan fotografi. Solusinya berupa rumus berikut ini:
Produk kebudayaan + di bawah permukaan air = M. Sn.
Padang, Agustus 2022
Ramadhani, fotografer dan penulis berbasis di Padang. Bergiat bersama SoreRabuProject